Beralih ke mode gelap.

Beralih ke mode terang.

in ,

“New Normal Life”, Bagaimana Syariat Memandangnya?

Meski korban Covid-19 masih berjatuhan, pemerintah terus mewacanakan penerapan konsep new normal life. Yakni pola hidup adaptif terhadap ancaman virus Covid-19 yang ditengarai baru akan benar-benar hilang dalam waktu yang sangat lama.

Bahkan ternyata bukan sekadar wacana. Di beberapa tempat, konsep ini sudah mulai diterapkan dalam bentuk pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pusat-pusat kegiatan ekonomi, pusat-pusat ibadah, sarana dan prasarana transportasi, sudah mulai berjalan meski dengan berupaya menerapkan protokol kesehatan.

Masalahnya, banyak pihak yang memandang bahwa kebijakan ini sangat tidak tepat dan berbahaya jika diterapkan dalam situasi sekarang. Mereka memandang bahwa kebijakan ini hanya bentuk berlepas dirinya pemerintah dari tanggung jawab mengurus rakyat hingga rela mengorbankan nyawa rakyat dengan alasan ingin menggerakkan kembali sektor ekonomi yang lumpuh akibat pandemi.

Lalu, bagaimana sesungguhnya penerapan konsep new normal life dalam pandangan Islam?

Setidaknya ada empat hal yang harus kita perhatikan dengan saksama, sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan, yang satu dengan lainnya sesungguhnya saling berkaitan, bahkan bisa dikatakan bermuara pada satu hal.

Keempat hal ini adalah kaidah “as-sababiyah” (kausalitas = sebab akibat), memperhatikan pendapat ahli, memperhatikan ahkam dharar, dan konsep tawakal. Dan jika kita peras, sesungguhnya semua bermuara pada kaidah as-sababiyah.

(1) Kaidah as-Sababiyah

Syekh Abdul Karim as-Saamiy dalam kitabnya As-Sababiyah, Qoidatu Injazi al’Amali wa Tahqiqi al Ahdafi menyatakan bahwa as–sababiyah adalah upaya mengaitkan sebab-sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik dalam rangka mencapai target dan tujuan tertentu.

Upaya tersebut dilakukan dengan cara mengetahui seluruh sebab yang mampu menghantarkan pada tercapainya tujuan serta mengaitkannya dengan seluruh akibat secara benar.

Hanya dengan cara semacam ini kita dapat mengatakan bahwa kita telah menjalani sebab-sebab atau menjadikan kaidah kausalitas sebagai landasan untuk melakukan berbagai aktivitas untuk mencapai berbagai tujuan.

Dalam perspektif syariat Islam, upaya menjalani as–sababiyah merupakan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah sebagaimana kewajiban-kewajiban yang lain. Dalilnya adalah sabda Rasulullah (Saw.) tentang orang Badui yang salah dalam memahami konsep bertawakal.

Hadis tersebut berbunyi: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi (Saw.) yang hendak meninggakan untanya. Ia berkata, “Aku akan membiarkan untaku, lalu aku akan bertawakal kepada Allah.” Akan tetapi Nabi (Saw.) bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakkalah kepada Allah.”

Hadis tersebut mengandung shighat amr pada kata i’qilha (ikatlah). Berarti terdapat tuntutan yang pasti (thalab jazm) untuk mengerjakan sesuatu. Maka dipahami dari maudhu’ hadis tersebut bahwa terdapat kewajiban untuk melakukan hukum sebab akibat bersama kewajiban bertawakal.

Selain itu, kewajiban mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya harus dibuktikan dalam bentuk amal praktis. Hal itu memerlukan usaha dan kecermatan untuk mewujudkan apa saja yang harus dilaksanakan untuk mencapai pelaksanaan amal tersebut.

Dengan kata lain perintah untuk melaksanakan suatu aktivitas berarti perintah untuk menjalani sebab-sebab dan merealisasikan qa’idah sababiyah, baik berimplikasi pada perolehan pahala –yaitu ketika menjalankan kewajiban maupun amalan sunah– atau tidak berimplikasi sedikit pun –yaitu ketika menjalankan amalan mubah.

Hal ini dilakukan agar kita tidak terjebak pada kesia-siaan dan rutinitas. Ketika seseorang berpikir tentang dan usaha untuk mewujudkan tujuan tersebut, berarti dia telah menjalani prinsip as-sababiyah dalam aktivitasnya.

(2) Memperhatikan Pendapat Ahli

Setiap muslim, ketika ia hendak melakukan sesuatu, sesungguhnya ia dituntut untuk memahami terlebih dahulu apa hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan tersebut.

Apalagi seorang pemimpin atau penguasa muslim, maka sesungguhnya ia pun terikat dengan aturan Allah ketika hendak membuat kebijakan.

Selain itu, Rasulullah SAW sebagai pemimpin, telah mencontohkan kepada kita agar memperhatikan pendapat orang-orang ahli atau ahlil khubroh jika itu berkaitan dengan pemikiran, strategi, atau pada hal-hal yang diperlukan adanya pendapat ahli.

Salah satu contohnya adalah berkaitan dengan penentuan markas kaum muslimin ketika perang Badar, maka Rasulullah merujuk pada pendapat sahabat Khubab. (Syakhshiyah Islamiyyah jilid 1, karya Syekh Taqiyyuddin An-Nabhaniy).

Dan ketika pun seorang penguasa merujuk kepada pendapat ahli, tidak berarti citra atau prestisenya turun, justru terpuji karena ia merujuk pada yang benar dan tentunya akan menyelamatkan rakyatnya.

(3) Memperhatikan hukum atau kaidah tentang dharar (kemudaratan)

Syariat Islam telah melarang seseorang mengerjakan sesuatu aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri atau membahayakan orang lain, terutama saudaranya sesama muslim, baik berupa perkataan atau perbuatan, tanpa alasan yang benar.

Semakin kuat larangan tersebut jika dharar itu dilakukan kepada orang-orang yang wajib dipergauli secara ihsân, seperti karib kerabat, istri, tetangga, dan semisalnya.

Dalam kitabnya Taysir Al-Wushul Ilaa Al- Ushul, Syaikh Atha’ bin Khalil Abu Rusytah mengungkapkan bahwa kaidah dharar mencakup dua hal: PertamaAsy-Syâri’ telah mengharamkan sesuatu yang membahayakan (dharar). Artinya, setiap perkara yang mengandung dharar wajib ditinggalkan. Sebab, adanya dharar tersebut merupakan dalil atas keharamannya.

عَنْ أَبيِ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ سِنَانِ اْلخُدْرِي رَضِيَ الله ُعَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ”

Dari Abu S’aid, Sa’d bin Sinan al-Khudry RA, bahwasanya Rasulullah (Saw.) bersabda, “Tidak boleh (ada) bahaya dan menimbulkan bahaya.” (HR Ibnu Majah)

مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اللهُ، وَمَنْ شَاقَّ مُسْلِمًا شَقَّ اللهُ عَلَيْهِ.

Barang siapa membahayakan seorang muslim, maka Allah pasti membahayakan dirinya; dan barangsiapa menyengsarakan seorang muslim maka Allah pasti menyengsarakannya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Kedua, Asy-Syâri’ telah memubahkan perkara yang umum, akan tetapi jika salah satu bagian dari perkara yang umum tersebut mengandung dharar, maka bagian tersebut menjadi haram. Adanya dharar pada bagian yang umum tersebut menjadi dalil atas keharamannya.

Hadis Rasulullah (Saw.): “Janganlah kalian meminum dari air sumur kaum Tsamud sedikitpun, dan janganlah kalian mengambil airnya untuk wudu dan salat, dan adonan yang telah kalian aduk berikanlah kepada unta. Janganlah kalian makan sedikit pun darinya. Dan pada malam ini janganlah seseorang keluar kecuali bersama temannya.”

Air secara umum hukumnya mubah untuk dimanfaatkan, dan air sumur bangsa Tsamud pada asalnya adalah bagian dari air yang secara umum dimubahkan. Akan tetapi karena ia mengandung dharar, maka air sumur bangsa Tsamud secara khusus diharamkan untuk dimanfaatkan. Sedangkan air (sumur lainnya) secara umum tetap berada dalam kemubahannya.

(4) Yakin akan qadha Allah dan bertawakal pada–Nya

Keimanan terhadap qadha akan berpengaruh positif terhadap aktivitas manusia dalam keadaaan apa pun. Keyakinan tersebut akan mendorongnya untuk melakukan aktivitas, bukan malah menjadikannya sebagai fatalis. Karena selama sebab-sebab yang menghantarkan terhadap tujuan itu masih berada dalam lingkaran yang dikuasainya, dia masih bisa untuk mengupayakannya.

Mengenai mafhum tawakal, seorang muslim wajib melakukannya karena perbuatan tersebut merupakan natijah keimanan, yakni keyakinan kalbu bahwa Allah-lah satu-satunya Al-Wakil (Zat yang Mahakuasa untuk mewakili segala urusan).

Sebagaimana firman Allah SWT: “Apabila kamu ditolong oleh Allah, maka tidak akan ada yang sanggup mengalahkan kamu dan menghinakan kamu. Maka siapakah yang dapat menolong kamu setelah (pertolongan) Allah? Dan kepada Allah-lah orang-orang beriman hendaknya bertawakkal.” (QS Ali-Imran: 160).

Namun bukan berarti dengan bertawakal kepada Allah berarti meninggalkan hukum sebab-akibat. Sebab mesti dibedakan antara akidah dan hukum syara’.

Tawakal termasuk wilayah akidah, sedangkan kewajiban mengusahakan as–sababiyah adalah masalah hukum syara’.

Dengan mafhum (pemahaman) tawakal seperti ini, maka pengemban dakwah akan memiliki semangat dan kekuatan luar biasa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, terutama mewujudkan tujuan untuk mengembalikan kehidupan Islam.


Demikianlah tuntunan Islam untuk kita semua –siapa pun kita– mengharuskan kita tunduk dan patuh terhadap syariat. Islam dengan rinci menuntun kita untuk merujuk kepada setidaknya empat poin ini ketika kita hendak bersikap berkaitan dengan rencana new normal life ini.

Terlebih kepada penguasa atau kepala negara, ketika hendak mengambil kebijakan ini, sudah seharusnya ia memperhatikan bahkan bertanya kepada ahlil hubrah ‘orang-orang ahli/pakar’ terkait masalah ini, dalam hal ini tenaga medis, ahli epidemiologi, dan sebagainya, seharusnya mempertimbangkan dengan saksama apakah akan memberikan kemudharatan pada rakyatnya atau tidak.

Secara gholabatu dzon (dugaan kuat), apakah akan menimbulkan korban jiwa lebih banyak atau tidak. Haram hukumnya penguasa memudaratkan rakyatnya, haram pula penguasa menzalimi rakyatnya, bahkan bisa menjerumuskannya kepada kebinasaan.

Satu nyawa kaum muslimin saja yang hilang, maka ia harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Apakah saat ini, di tengah pandemi yang kurvanya justru masih tinggi bahkan masih terus meningkat, atau sudah ke titik nol, sehingga bisa memastikan tepatkah kebijakan ini diterapkan.

Padahal WHO dan beberapa pakar kesehatan yang ada di Indonesia pun telah menyampaikan syarat-syarat dan pendapatnya terkait dengan new normal ini.

Di sisi lain, penguasa seharusnya mengupayakan upaya maksimal, menempuh sebab-sebab yang bisa mempercepat proses penyelesaian masalah ini, tidak membiarkan rakyat sendiri menyelesaikan permasalahan ini, kemudian menempuh jalan new normal untuk menyelesaikan masalah ekonomi tanpa memperhatikan nasib nyawa rakyatnya.

Sudahkah menyisir seluruh aset-aset negara, mengelola sumber daya alam yang ada untuk membiayai kebutuhan negara dan rakyatnya demi menyelesaikan permasalahan ini? Atau bahkan mendorong pengorbanan para penguasa dan aparatnya serta “petinggi-petinggi” negara untuk membantu rakyatnya?

Sesungguhnya kesungguhan penguasa dan upaya maksimal penguasa dalam meriayah rakyatnya akan membantu meringankan beban rakyat.

Demikian halnya umat Islam, sungguh pun jika penguasa tetap menurunkan kebijakan new normal, dengan alasan untuk memulihkan ekonomi tanpa memperhatikan bagaimana nasib nyawa rakyatnya, maka terkait dengan aktivitas individu sesungguhnya kita pun sudah bisa bersikap dengan merujuk kepada pendapat ahli. Karena mereka lebih berkompeten dalam hal ini, bagaimana pun kita harus menjaga diri dari kebinasaan dan kemudaratan.

Kita pahami dengan benar, bahwa kejadian ini adalah ketetapan Allah, hanya saja kita tidak bersikap pasrah atau fatalis, tetapi sudah seharusnya kita mempertimbangkan segala sesuatunya.

Menyiapkan segala sesuatunya dengan maksimal dan seksama, memperhatikan pendapat orang-orang yang ahli di bidang kesehatan dan sebagainya yang berkaitan dengan pandemi ini. Menimbang baik buruknya, apakah justru menimbulkan kemudaratan bagi kita atau keluarga kita.

Di samping itu, setiap muslim harus menyadari bahwa terjadinya pandemi dalam waktu yang lama sudah seharusnya kita yakini bahwa ini semua adalah dengan izin Allah, sebagai musibah, ujian, dan teguran sayangnya Allah untuk kita semua.

Yakin bahwa ini adalah ketetapan Allah yang akan menjadikan kita bersabar menghadapi pandemi ini, sambil terus berupaya keras dan maksimal menjalani semua aktivitas-aktivitas kita, melaksanakan peran-peran kita dengan baik sebagai ibu, istri, anak, ataupun bagian dari masyarakat, walaupun saat ini sebagian besar aktivitas kita lakukan di rumah dengan tetap memperhatikan kesehatan diri dan keluarga kita. Kita yakin, bahwa banyak sekali hikmah yang Allah berikan bagi kita atas kejadian ini.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Firman Allah (SWT): “Wa man yu’min billaahi yahdi qalbahu”, dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Allah akan memberikan kesabaran kepada orang-orang mukmin dalam menghadapinya, sedangkan Ibnu Katsir menyatakan bahwa Allah akan menganugerahkan hidayah (petunjuk Allah kepadanya), akan menggantikan perkara dunia yang hilang darinya bahkan menggantinya dengan yang lebih baik, dan Allah akan menggantinya dengan petunjuk di dalam hati dan keyakinan yang benar. Ma syaa Allah, luar biasa!

Selanjutnya, kita sebagai rakyat pun punya peran untuk menyelamatkan keluarga kita, bahkan menyelamatkan umat dengan terus mengopinikan ke tengah-tengah umat dan melakukan kritik terhadap penguasa, bahwa kebijakan yang dilakukan akan memberikan dampak berbahaya bagi umat.

Bukti-buktinya sudah sangat jelas, berdasarkan data-data yang ada, kasus Covid-19 di Indonesia masih cenderung meningkat. Jangan sampai kebijakan new normal life justru memunculkan datangnya gelombang kedua yang semakin besar bahayanya bagi umat. Naudzu billahi min dzalika.

Ingatlah! Bahwa kebijakan yang sembrono akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Sumber: muslimahnews.com

Rekomendasi

Komunikasi Publik ala Istana: Benarkah Blunder dan Memicu Polemik Serta Kepanikan Rakyat Hadapi Corona?

Bola-Bola Nasi Jagung Manis by @fridajoincoffee

Back to Top