Beralih ke mode gelap.

Beralih ke mode terang.

in

Menumbuhkan Empati Dan Simpati Ditengah Pendemik Yang Melanda Dunia

Oleh: Sulvana hayati

Pendemik Corona telah, sedang dan entah sampai kapan melanda dunia. Ribuan nyawa menjadi korban, dampak kerugian material maupun immaterial menyentuh segala lapisan masyarakat.

Pendemik Corona bukan saja mengikis jiwa manusia, harta bahkan rasa perikemanusiaan-pun ikut terluka. Ditengah bertambahnya korban penderita hal yang miris juga menjangkiti sebagian kecil nurani masyarakat. Stigma negatif terhadap korban dan orang-orang yang terkait menambah beban psikis yang bersangkutan.

Penolakan pemakaman jenazah korban covid 19 di beberapa tempat, “pengasingan” bagi orang-orang yang bersinggungan dengan korban baik tenaga medis, petugas pemakaman dan keluarga korban. Peristiwa-peristiwa diatas mencederai nurani, mengikis empati dan menghempaskan simpati kemanusiaan.

Menjadi korban pendemik bukan pilihan, namun semua itu adalah ketetapan/qodho Illahi. Jika ada pilihan, semuanya pasti tak ingin menjadi korban. Jika boleh memilih para petugas atau keluarga korban tak ingin bersinggungan, namun panggilan jiwa dan kemanusiaan-lah yang berjalan.

Sedikit renungan bagi kita manusia yang diangkat Allah sebagai makhluk mulia. Dimana kemuliaan kita akan terlihat jika kita tundukkan diri kepada aturan dan ketetapanNya. Bagaimana sikap kita ditengah pendemik terhadap manusia lain secara umum dan khususnya korban covid 19 serta yang berkaitan akan menunjukkan kualitas “kemuliaan” diri sebagai makhlukNya.

Berikut ini penyikapan terhadap pendemik yang bisa kita lakukan

1. Menerima pendemik sebagai ketetapan/ qodho’ Allah.

Sebagai orang yang beriman kita meyakini bahwa tidaklah apa yang terjadi di muka bumi sebagai ketetapan-Nya. Ada ibrah dalam setiap peristiwa yang terjadi.

2. Memposisikan diri kita berada pada kondisi orang yang terdampak.

Ada suatu pesan bijak tentang bagaimana menghadirkan syukur. Yaitu untuk urusan akhirat maka pandanglah orang diatas kita, sedang untuk urusan dunia pandanglah orang dibawah kita. Coba posisikan diri kita sebagai korban dan orang-orang yang berkaitan, bagaimana perasaan mereka. Perlakuan apa yang pantas dan diharapkan, maka hadirkan empati karena itu akan sangat berarti.

3. Peduli Untuk Berbagi

Diakui atau tidak semua dari kita juga terdampak pendemik ini, namun jika kita tengok disekeliling bisa jadi ada yang lebih parah. Maka saat inilah hadirkan sympati sesuai dengan yang kita mampu. Karena sympati bukan berwujud harta semata bisa tenaga, pikiran bahkan doa.

4. Hidupkan Nasehat

Saling nasehat menasehati dlm kebajikan dan kesabaran bisa kita lakukan dlm menghadapi pandemi. Individu kepada individu, individu kpd masyarakat, masyarakat kepada negara dan sebaliknya. Negara memberikan edukasi penyikapan masyarakat menghadapi pandemi, memperlakukan korban dan yang berkaitan serta terdampak dengan tetap menghadirkan kemanusiaan. Hadirkan “trust” rasa saling percaya dan saling menguatkan antara segala pihak. Ingatkan jika blm tepat tetap dlm cara yang baik tanpa menyakiti.

Yang perlu dicamkan musuh bersama kita adalah Corona. Bukan korban atau yang terkait dengan-nya. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk saling menguatkan ukhuwah, bukan malah menambah masalah. Waspada boleh tapi bukan berarti curiga dan mencurigai apalagi antipati. Mari bersama kita introspeksi, semoga pendemi ini segera berhenti.

Rekomendasi

HIDROPONIK UNTUK PEMULA DAN COCOK UNTUK HIDROPONIK RUMAHAN

Ide Bisnis Makanan Ringan yang Menguntungkan Usai Lebaran

Back to Top