Beralih ke mode gelap.

Beralih ke mode terang.

in

Luhut Ungkap Berkah Pandemi Bagi RI, Apa Itu?

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan ada berkah di balik pandemi virus Corona. Menurutnya, pandemi membuat reformasi terjadi di berbagai bidang, salah satunya dalam riset teknologi.

Meskipun begitu, Luhut juga mengatakan pandemi telah merenggut banyak nyawa, dan dia turut berduka karena hal itu.

“COVID-19 ini sebenarnya blessing juga. Mohon maaf untuk ada yang meninggal akibat ini. Tapi, sisi positifnya apa? Kita reformasi di berbagai bidang. Peranan riset jadi tambah ke depan,” ujar Luhut dalam Rakernas BPPT 2021 yang disiarkan via YouTube, Selasa (9/3/2021).

Dia mengatakan berbagai riset berhasil dilakukan untuk membentuk barang-barang berteknologi tinggi selama pandemi. Alat screening COVID-19, GeNose misalnya.

Luhut mengatakan apapun yang bisa dibuat di dalam negeri, maka harus diproduksi di dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak penggunaan produk dalam negeri.

“GeNose lah, mobil apa lah, apa lah semua ini yang bisa dibikin di dalam negeri, dibuat aja di dalam negeri. Kita sepakat itu,” ujar Luhut.

Soal penggunaan produk dalam negeri, Luhut juga sudah berpesan kepada Menteri Perdagangan M Lutfi, untuk tidak asal memberikan rekomendasi impor suatu barang. Apabila bisa diproduksi di dalam negeri, oleh BPPT misalnya, maka jangan langsung diberikan izin impor.

“Ke Menteri Perdagangan juga sekarang saya bilang paten. Saya bilang ke Mendag, ‘Fi lu jangan mau impor-impor itu, tanya gue dulu.’ Jadi apa yang tidak bisa dibikin, tanya dulu ke BPPT dulu,” kata Luhut.

Dia berpesan memang produk hasil dalam negeri tak selalu langsung hebat kualitasnya. Maka dari itu bila ada kurang sedikit, akan diperbaiki dan dievaluasi.

“Kalau kurang-kurang sedikit BPPT ya sudah lah. Kan di luar negeri pernah salah juga, masa mau langsung bagus,” ujar Luhut.

(hal/ara/ DETIK.COM)

Rekomendasi

Langsung! Ada Pejabat Tinggi Pertamina Dipecat Jokowi

Buset! Harga Cabai Naik Gila-gilaan, Tembus Rp 120 Ribu/Kg

Back to Top